Mendagri: Tidak Benar Gudang Kemendagri di Bogor untuk Menimbun KTP el

Mendagri: Tidak Benar Gudang Kemendagri di Bogor untuk Menimbun KTP el

img-20180503-wa0013_1 (1)Banda Aceh – Menyikapi simpang siurnya informasi tentang KTP elektronik (KTP el) yang tercecer di jalan raya Semplak, Bogor, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan gudang Kementerian Dalam Negeri di Bogor bukan tempat untuk menimbun atau menyembunyikan KTP el. Ia merasa perlu meng-clear-kan itu. Sebab di media sosial beredar informasi yang menyesatkan bahwa gudang Kemendagri di Bogor tempat menimbun atau menyembunyikan KTP el. Tjahjo juga menegaskan siap mempertaruhkan kehormatannya untuk menjamin data KTP el tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik baik pemilihan kepala daerah maupun pemilu legislatif atau pemilihan presiden.

“Gudang di Bogor  isi macam-macamm barang. Gudang ini sudah ada sejak saya  belum menjadi Mendagri sampai sekarang,” kata Tjahjo, di Jakarta, Selasa.

Jadi kata dia, tidak benar jika gudang itu diisukan tempat khusus untuk menyimpan KTP el. Apalagi jadi tempat menimbun atau menyembunyikan  seperti yang beredar di media sosial. Gudang Kemendagri di Bogor, isinya macam-macam yakni berupa barang-barang yang tidak terpakai dan arsip-arsip serta blanko KTP el yang salah cetak.

“Nah yang salah cetak selama ini tidak  langsung digunting atau dimusnahkan. Kenapa begitu, kenapa disimpan, karena  sewaktu-waktu andai diperlukan sebagai barang bukti KPK yang tengah mengusut kasus korupsi KTP el, bisa dibawa lagi. Dan jumlah KTP el yang salah cetak terdata jumlahnya dengan baik,” katanya.

Kasus tercecernya KTP el sendiri kata Tjahjo bermula beberapa staf hendak mengirim barang pakai kendaraan bak terbuka  ke gudang yang ada di Bogor. Di tengah perjalanan terjadi insiden, dimana ada dus dan seperempat karung berisi KTP el cacat jatuh. Dus dan karung itu jatuh karena diletakkan.

tidak baik dalam bak mobil. Tapi begitu jatuh oleh pegawai yang membawa barang dengan dibantu masyarakat, barang tersebut langsung dinaikkan kembali ke bak mobil.  Hanya saja ketika itu ada pengendara yang memotret pakai handphone lantas menyebarkannya ditambahi bumbu-bumbu yang bikin heboh. Jadi kasus itu hanya kelalaian petugas yang tak meletakan dus berisi KTP el rusak dengan baik. Sehingga dus itu jatuh. Dan barang yang dibawa tak hanya dua KTP el, tapi juga barang lain yang sudah tak terpakai. Dus KTP el hanya sebagian kecil dari barang yang dibawa.

“Hanya terjadi kelalaian petugas saat membawa 2 kardus KTP el yang salah cetak untuk dibawa ke gudang di Bogor terjatuh, karena memang barang diangkut mobil bak terbuk, harusnya box tertutup,” ujarnya.

Karena kasus itu heboh, ia pun meminta agar polisi mengusut dan mengeceknya. Pihak kepolisian sendiri telah mengecek ke gudang di Bogor dan Pasar Minggu. Hasilnya, sesuai keterangan polisi, tak ada unsur kesengajaan dalam kasus tersebut. Dan, tidak ada yang janggal di dalam gudang. Sementara blanko KTP el yang belum terpakai masih aman disimpan di gudang Kemendagri yang ada di Pasar Minggu Jakarta.

“Semua sudah dicek polisi. Blanko KTP el asli yang belum  proses ada di gudang Pasar  Minggu, Jakarta.

Meski itu kelalaian petugas, Tjahjo menegaskan sebagai Mendagri dirinya bertanggungjawab penuh. Ia telah memerintahkan pejabat berwenang di Ditjen Dukcapil Kemendagri kedepan kalau memang ada yang salah cetak dan harus ganti blanko baiknya yang salah langsung digunting.  Sehingga tidak bisa disalahgunakan. Atau KTP el invalid  yang sudah  lewat tahun dengan disertai berita acara, dimusnahkan saja.

“Ini kan permasalahan (tercecernya KTP el) tidak perlu terjadi kalau petugas atau staf yang bertanggungjawab atau yang memerintahkan itu hati-hati dan peka. Apalagi ini menyangkut KTP el yang sudah bertahun-tahun jadi pembicaraan di masyarakat mulai dari kasus korupsinya, kasus mark up, kasus berbagai hal. Kenapa sih ngangkut dua kardus KTP el saja tidak gunakan mobil boks tertutup, harus terbuka sehingga tercecer,” tuturnya.

Permasalahan ini sekarang kata Tjahjo,  sedang di evaluasi dan diteliti, apakah hanya keteledoran atau ada unsur kesengajaan.  Padahal sudah sering disampaikan untuk barang-barang atau  arsip harus cermat dan teliti kalau memang hendak dipindahkan. Dan sebaiknya proses pemindahan dikawal serta dibawa  di mobil yang tertutup.

“Mengenai gudang di Bogor saya perlu menjelaskan lagi,  gudang tempat penyimpanan di Bogor itu bukan hanya gudang KTP el saja. Seluruh barang-barang inventaris pemerintah (Kemendagri), arsip Kemendagri yang belum dimusnahkan dan diberita acarakan, dan kadaluwarsa, semua disimpan di sana menunggu prosesnya nanti. Termasuk KTP el yang salah cetak dan salah rekam,” katanya.

Tjahjo kembali menekankan tentang KTP el invalid yang tak cepat dimusnahkan. Kata dia, itu terkait dengan kasus KTP el yang tengah di tangani KPK. Ditjen Dukcapil sengaja tidak menggunting atau  memusnahkan KTP el invalid karena ditakutkan sewaktu-waktu itu diperlukan sebagai barang bukti.

“Mereka khawatir kalau nanti ditanya sisanya dan sebagainya makanya disimpan,” katanya.

Mengenai pegawai yang lalai dalam mengantar barang ke Bogor, kata Tjahjo, pastinya akan dievaluasi. Pasti akan ada sanksi sebagai bentuk pembinaan dan pelajaran, agar dikemudian hari tak terjadi hal serupa.

“Soal nanti akan ada sanksi pasti saya akan berikan sanksi. Minimal dimutasilah. Harus. Apalagi ini masalah peka, masalah arsip, data, walau itu data yang rusak ya. Samalah kayak kalau anda salah ketik berita, ganti kertas, kan ini kita sobek ganti kertas baru. Kenapa ini kok enggak disobek, malah disimpan? Kalau disimpan dibaca orang dan sebagainya itu saja maksud saya,” katanya.

Kata Tjahjo, KTP el yang tercecer itu sendiri sudah diperiksa pihak kepolisian bersama dengan tim dari Inspektorat Jenderal dan Sekjen. Hasilnya clear tidak ada yang mencurigakan. Pengiriman KTP el invalid itu sendiri telah dilakukan sepuluh kali. Setiap pengiriman, bisa membawa satu atau dua dus. Baru kali ini memang terjadi insiden dus yang dibawa jatuh.

“Terakhir ini lah kok biasanya pakai mobil tertutup, ini pakai mobil terbuka dan jatuh lagi. Apapun harus ada yang tanggung jawablah, apalagi ini di tahun-tahun politik yang orang bisa curiga dan mengkaitkan segala hal. Tapi apapun saya tanggung jawab secara prinsip, untuk pembenahan ke dalam ya mari kami akan menata semua,” tuturnya.

Tjahjo juga kembali menjelaskan soal gudang di Bogor. Kata dia, gudang itu sudah ada sebelum ia jadi Mendagri. Jadi bukan gudang baru. Namun gudang lama. Selama ini, sebelum ia jadi Mendagri, terkait KTP el yang invalid, jika sudah numpuk di gudang yang ada di Pasar Minggu, maka akan dipindahkan ke gudang di Bogor, karena tempatnya lebih luas. Jadi sangat menyesatkan informasi yang disebar di media sosial, bahwa gudang itu sengaja dibangun untuk menyembunyikan KTP el.

“Sebelum saya jadi Mendagri, gudang itu sudah ada. Ini juga sudah biasa kalau KTP atau blanko invalid  sudah numpuk di Dukcapil ya dibawa ke gudang,” katanya.

Yang pasti, kasus tercecernya KTP el invalid di jalan kata dia, akan jadi bahan pelajaran berharga. Jadi bahan evaluasi. ” Ini  jadi bahan evaluasi kami, ternyata staf juga asal kerja enggak hati-hati dan sensitif,” ujarnya.

Tentang berita hoax bahwa  KTP el jadi alat kepentingan untuk Pilkada dan Pemilu, Tjahjo menegaskan sebagai Mendagri ia menjamin data KTP el tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik. Bahwa ada yang memalsukan, Tjahjo tak menampiknya. Kasus KTP el buatan Kamboja yang terjadi dulu, adalah bukti bahwa selalu saja ada orang ingin memalsukan data.

“Kalau toh barang palsu tuh banyak kayak kemarin di DKI Jakarta ditemukan palsu itu buatan Kamboja, bukan buatan sini,” katanya.

Tapi untuk Kemendagri, kata Tjahjo, clear and clean. Soal masyakarat ada yang terlambat menerima KTP el, Tjahjo akui memang itu ada. Tapi mungkin lambat prosesnya. Namun kalau dipalsukan apalagi digunakan untuk Pilkada dan Pileg serta Pilpres, Tjahjo menjamin tidak ada kemungkinan itu. Bahkan ia  siap mempertaruhkan kehormatannya

“Saya mempertaruhkan kehormatan dan  jabatan saya. Itu tidak akan terjadi,” katanya.

Sumber :Puspen Kemendagri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *