2a11384d-6a10-4d39-b5b2-ac4d2db138e7.jpg00000Banda Aceh – KPK melimpahkan berkas perkara dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP ke Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta. Berkas itu tebalnya sekitar 24 ribu halaman.

Berkas perkara itu atas nama 2 tersangka yaitu Irman (mantan Dirjen Dukcapil) dan Sugiharto (mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan Ditjen Dukcapil).

Dari pantauan di lobi PN Tipikor Jakarta, berkas itu diangkut menggunakan troli warna kuning. Berkas disusun horizontal menjadi 3 tumpukan dengan panjang masing-masing sekitar 1 meter.

“Untuk perkara Sugiharto itu sekitar 294 saksi dan 5 ahli. Berkasnya tebalnya sekitar 13 ribu lembar. Untuk terdakwa Irman, diberkaskan 173 saksi dan 5 ahli, tebalnya 11 ribu halaman,” ujar jaksa penuntut umum KPK Taufiq Ibnugroho di PN Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (1/3/2017).

Taufiq menjelaskan, dengan diserahkannya berkas, kedua tersangka dapat segera menjalani persidangan. Biasanya, pengadilan mengeluarkan jadwal sidang seminggu setelah penyerahan berkas.

“Biasanya seminggu setelah pelimpahan, ada waktu sidangnya, Maret ini mungkin,” kata Taufiq sembari menambahkan berkas perkara kedua tersangka sengaja digabung penuntut karena saling berkaitan.

Dalam kasus tersebut, KPK baru menetapkan dua tersangka, yaitu Irman dan Sugiharto. Saat proyek e-KTP berlangsung, Irman menjabat kuasa pengguna anggaran, sedangkan Sugiharto sebagai pejabat pembuat komitmen.

Pada beberapa kesempatan, KPK telah memeriksa 280 saksi, termasuk sejumlah nama tokoh, seperti Setya Novanto, Anas Urbaningrum, M Nazaruddin, hingga Gamawan Fauzi. Ketua KPK Agus Rahardjo berulang kali mengatakan akan ada tersangka baru dalam kasus tersebut, tetapi hingga saat ini belum ada titik terang siapa tersangka yang akan dijerat KPK.
(aud/dhn)